Sabtu, 13 November 2010

Model Perilaku Kerja Penyuluh Pertanian


Model perilaku kerja yang dimaksudkan didalam tulisan ini adalah rangkaian kegiatan terpola penyuluh pertanian secara individu untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya. Model perilaku kerja penyuluh pertanian tidak sama dengan metode-metode kegiatan penyuluhan pertanian. Walaupun demikian, model perilaku kerja akan sangat bermanfaat bagi seorang penyuluh dalam menjalankan dan mengembangkan profesinya.
Konstruksi Persepsi tentang Penyuluhan
Halayak umum termasuk para birokrat dan teknokrat mengkonstruksikan bahwa penyuluhan pertanian sama dengan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kompetensi para pelaku utama pembangunan pertanian (petani). Malah ada yang mempersepsikan penyuluhan sama dengan penerangan. Dengan perubahan budaya petani sebagai akibat revolusi 3 T (Tourism, Telekomunikasi dan Teknologi) persepsi tersebut perlu ditelaah ulang.
Permasalahannya bukan salah atau benarnya persepsi tentang penyuluhan pertanian saat ini, tetapi apakah persepsi tersebut masih relevan atau tepat sebagai landasan pengembangan profesi penyuluh pertanian saat ini. Persepsi penyuluhan pertanian sebagai kegiatan, muncul dengan asumsi para petani tidak tahu apa-apa, petani itu bodoh, tidak rasional dsb. Petani diibaratkan sebuah botol kosong. Untuk meningkatkan produkstivitas usaha taninya, diperlukan adanya proses transfer teknologi (TOT). Teknologi saat itu, hanya ada di stasiun-stasiun penelitian.
Untuk mentransfer teknologi yang berada di stasiun-stasiun penelitian kepada para petani diperlukan seorang petugas yang namanya penyuluh pertanian. Dengan demikian, tugas utama penyuluh pertanian saat itu adalah mentransfer teknologi melalui berbagai kegiatan seperti mengunjungi petani, latihan dan demonstrasi. Bahasa populernya tugas penyuluh pertanian untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap agar mau menerapkan teknologi yang direkomendasiakn oleh pemerintah.
Dengan merefleksikan secara kritis budaya dan perilaku petani saat ini apakah asumsi tentang petani tersebut di atas masih realistis. Puspadi (2002) menemukan bahwa telah muncul gejala-gejala perubahan masyarakat perdesaan yang sangat mendasar yaitu perubahan system nilai (Tabel 1).




Tabel 1. Gejala perubahan system nilai petani di perdesaan
No
Sistem nilai lama
Perubahan kea rah system nilai baru
1
Menerima dan mengimplementasikan ideologi “fundamentalisme agraris”

Mempertanyakan ideologi “fundamentalisme agraris” dan menuntut simbul-simbul kehidupan perkotaan
2
Sistem nilai spritual relatif kuat
Sistem nilai material relatif menguat
3
Sistem nilai absolut relatif kuat
Munculnya sistem nilai relatif

Perubahan system nilai masyarakat perdesaan yang menuntut simbul-simbul masyarakat kota, tampak secara kasat mata. Rumah yang bagus, peralatan rumah tangga, telpon, kendaraan bermotor, cara berpakain yang dulunya merupakan simbul masyarakat perkotaan, kini telah menjadi simbul masyarakat perdesaan. Puspadi (2010) menemukan bahwa hampir semua pengurus kelompok tani yang terlibat dalam program SL-PTT memiliki HP, ada satu kelompok, hampir 80 % anggotanya memiliki HP. Perubahan system nilai akan merubah pola pikir, proses pengambilan keputusan dan munculnya kebutuhan-kebutuhan baru masyarakat perdesaan.
Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat perdesaan yang baru, mereka akan merubah proses pengambilan keputusan, pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil keputusan,  dan perilaku kerjanya. Merespon perubahan-perubahan tersebut, maka penyuluhan yang dipersepsikan hanya sebagai kegiatan, sudah tidak memadai lagi, apalagi penyuluhan direduksi hanya sebagai metode mengajar, melatih, memfasilitasi petani belajar. Perubahan-perubahan tersebut juga menuntut peran-peran baru penyuluhan, diluar peran yang dilaksanakan saat ini. Merumuskan peran-peran penyuluhan pertanian yang baru, mengharuskan kita  untuk mengkonstruksi persepsi tentang penyuluhan pertanian.
Konstruksi tentang Penyuluhan.
  Merespon dinamika masyarakat perdesaan secara optimal, mengharuskan kita mempersepsikan dan memandang penyuluhan pertanian sebagai ilmu, yang sama dengan ilmu pengetahuan yang lain. Penyuluhan pertanian memang tidak merupakan disiplin ilmu, tetapi merupakan sintesis berbagai disiplin, seperti ilmu management. Tidak ada grand teori tunggal sebagai landasan pengembangan ilmunya. Penyuluhan pertanian dikembangkan dengan mensintesis berbagai grand teori. Fenomena-fenomena alam, sosial yang muncul belakangan ini tidak dapat dipahami hanya menggunakan satu disiplin, single paradigm, sehingga tidak ada single solusi untuk satu permasalahan. Contoh fenomena penurunan produktivitas dan atau produksi suatu komoditi dimensinya tidak hanya teknis, tetapi ada juga dimensi sosial, politik, budaya, dan ekonomi.
Indikasi-indikasi perubahan iklim yang relative spesifik akan mempengaruhi skala unit perencanaan. Sebagai contoh di satu kecamatan turun hujan sangat deras, tetapi di kecamatan tetangga tidak turun hujan. Fenomena ini menuntut otonomi penyuluh pertanian yang lebih besar. Otonomi penyuluh pertanian akan bermanfaat bagi pembangunan wilayah kalau, yang bersangkutan memahami dan menguasai penyuluhan pertanian sebagai Ilmu Pengetahuan. Otonomi penyuluh pertanian akan diwujudakn dalam berbagai peran. Sebagai contoh peran penyuluh pertanian adalah mengembangkan modal sosial, merencanakan dan mengelola perubahan sosial dll.
Dokter di Perguruan Tinggi, sebagai Model Perilaku Kerja Penyuluh Pertanian
Dengan memperhatikan perubahan-perubahan petani saat ini, seperti perubahan system nilai, penguasaan informasi, teknologi dan pengalamannya berinteraksi dengan berbagai pihak baik pengalamannya yang positif maupun negatif, maka perilaku kerja seorang berfrofesi dokter sekaligus sebagai dosen di Perguruan Tinggi, relatif tepat sebagai model perilaku kerja penyuluh pertanian dalam mengembangkan profesinya.
Dokter sebagai dosen setiap hari, jam kerjanya diisi dengan aktivitas mengajar mahasiswa, membaca buku, journal dll. Pada sore hari membuka praktek untuk menerapkan ilmu yang telah dikuasainya. Melalui praktek, pengetahuan dan pengalamannya akan bertambah, sehingga tingkat kepercayaan dirinya meningkat dalam berhadapan dengan berbagai karakteristik pelanggannya.
Model perilaku kerja tersebut di atas, sangat implementatif dalam kegiatan penyuluhan pertanian, sehingga kegiatan penyuluhan pertanian menjadi efektif. Seorang penyuluh pertanian seharusnya bergelut dengan dunia praktik pertanian. Sebagai contoh kalau seorang penyuluh pertanian, ingin memfasilitasi petani belajar tentang padi, seharusnya yang bersangkutan berpengalaman dalam menanam padi. Berdasarkan pengalaman menanam padi, yang bersangkutan mendalami pengetahuan tentang padi baik dari aspek budi daya, sosial, ekonomi.
Salah satu prinsip yang dipegang untuk mempercepat proses adopsi suatu teknologi adalah “Seeing is believing” yang maknanya dengan melihat akan percaya. Dalam kegiatan penyuluhan pertanian prinsip ini hanya diterapkan dalam bentuk petani melihat percobaan, demplot dll.
Prinsip “Seeing is believing” dapat juga diterapkan untuk membangun, mengembangkan tingkat kepercayaan petani terhadap penyuluh pertanian. Kepercayaan petani merupakan modal utama bagi penyuluh pertanian dalam melaksanakan profesinya. Seeing disini diterjemahkan petani melihat dan tahu apa yang dikerjakan penyuluh tentang usaha tani yang akan dikembangkan.
Kalau petani tahu dan mengetahui bahwa seorang penyuluh berpengalaman dalam mengembangkan salah satu cabang usaha tani, maka petani akan semakin yakin bahwa penyuluh tersebut sebagai tempat belajar yang tepat tentang cabang usaha tani tersebut. Disamping meningkatkan rasa percaya diri penyuluh bersangkutan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar